Tuesday, November 17, 2009

Cak Durasim - Kreativitas Arek Suroboyo


Parikan dari Cak Durasim, memberikan inspirasi Arek Suroboyo untuk berkreasi di dunia kesenian "Maya".

Sunday, November 15, 2009

Cak Durasim - Another Surabaya Superhero

Tidak banyak yang bisa di gali dari sejarah Cak Durasim. Salah seorang Super Hero Surabaya yang, Menggetarkan hati dan memanaskan telinga para penjajah negeri ini dengan pantun atau “parikan” dalam dalam bahasa jawanya.
Salah satu “parikan” yang fenomenal dari Cak Durasim yaitu :

Bekupon Omahe Doro
Melok Nippon Tambah Sengsoro

Parikan itu di lantunkan oleh Cak Durasim dengan indahnya di iringi oleh merdunya suara gamelan, bersama dengan Group Ludruknya. Dan efeknya bagaikan peluru yang memberondong penguasa Jepang di sekitar tahun 1943, sehingga menyebabkan beliau di tangkap, kemudian di siksa dalam panjara Jepang sampai akhirnya beliau meninggal dalam penjara setahun kemudian pada Agustus 1944.

Karena kegigihan beliau dalam membangkitkan semangat melawan penjajahan Jepang melalui kegiatan kesenian Ludruknya tersebut, nama Cak Durasim di abadikan menjadi nama Gedung Pertunjukan di Taman Budaya Jawa Timur Jl. Genteng Kali No 85, Surabaya. Setiap tahunnya pecinta seni Jawa Timur selalu mengadakan Festival Kesenian Cak Durasim (FCD) untuk mengenang perjuangan Beliau mengangkat kesenian tradisional Jawa Timur.
Di salah satu sudut Taman Budaya Jawa Timur, kita dapat menemukan Patung Cak Durasim, yang dibuat oleh Santoso Setijono pada 2007 sebagai appresiasi pecinta seni Jawa Timur..

Cak Durasim berasal dari Desa Mojorejo - Kabupaten Jombang. Durasim muda gemar berpetualang bersama Group Ludruknya. Sampai akhir hayatnya Cak Durasim tidak pernah menikah. Satu-satnya keluarga yang tersisa adalah cucu dari anak angkat Cak Durasim, yang tinggal dekat dengan peristirahatan beliau yang terakhir di Pemakaman Umum Tembok – Surabaya, dengan membuka warung kopi kecil.

Nama Cak Durasim dikenal rakyat banyak Jawa Timur khususnya Surabaya, kisah hidupnya yang penuh misteri membuat sosok beliau bagaikan sebuah legenda kesenian Surabaya.

Tuesday, November 3, 2009

Bung Tomo - Superhero Surabaya

Sutomo, laki-laki kelahiran Surabaya 03 October 1920, yang lebih dikenal oleh masyarakat Surabaya kususnya sebagai “Bung Tomo”, contoh sosok seorang pahlawan bagi Arek-arek Suroboyo.

Peranan heroisme yang menjadikan beliau Super Hero Surabaya adalah peristiwa pertempuran 10 November 1945 melawan NICA, yang di peringati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Sosok Sutomo, berasal dari kalangan biasa.

Di usia yang sangat belia 12 tahun, beliau terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolah nya di MULO karena harus membantu dirinya sendiri dan keluarganya yang dalam kesulitan ekonomi. Kemudian pendidikan Beliau di lanjutkan ke HBS malalui pendidikan koresponden, sehingga tidak harus hadir di sekolah karena masih harus bekerja. Prestasi Beliau di sekolah amat sangat mengagumkan, padahal hanya dengan koresponden saja.

Kegiatan politik Beliau dimulai pada tahun 1944, dengan bergabung menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru. Pada bulan Oktober dan November 1945, beliau sangat aktif dalam menyerukan suaranya membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk berjuang melawan tentara NICA.

Setelah Indonesia Merdeka, Bung Tomo masih aktif di pergerakan politik Indonesia. Bahkan Beliau pernah menduduki jabatan sebagai Menteri Negara Kabinet Burhanuddin Harahap walaupun hanya selama 8 bulan dan berakhir pada 24 Maret 1956.

Kemudian pada awal tahun 1970-an, beliau menyuarakan perbedaan pendapatnya dengan bersuara lantang menentang program-program Orde Baru Suharto. Tindakan ini mengakibatkan beliau menghuni hotel perdeo pada 11 April 1978 selama satu tahun.

Tragis sebagai seorang Pahlawan, di penjarakan oleh bangsanya sendiri.

Beliau beristirahat dengan tenang saat menunaikan Ibadah Hajinya di Mekkah pada tanggal 7 October 1981. Dan di makamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel – Surabaya.

Mari kita teruskan perjuangan Beliau, Merdeka Bung !


Monday, November 2, 2009

Bung Tomo by Arek-arek Suroboyo


Poster Bung Tomo, hasil kreatvitas arek-arek Suroboyo !

Tabel Makanan ala Arek Suroboyo


Salah satu kreativitas dari arek-arek Suroboyo.
Yang merupakan keharusan bagi para pecinta kuliner Indonesia.


Kalau belum nyoba susunan tabel periodic ini, kunjungan Anda di Surabaya belum sempurna.

1. Lontong Balap
2. Kupang Lontong
3. Rawon
4. Tahu Campur
5. Sate Kelopo
6. Sego Bebek
7. Tempe Penyet
8. Rujak Cingur
9. Semanggi
10. Pecel Lele
11. Mie duk-duk
12. Soto Daging
13. Gado Gado
14. Bakwan Campur
15. Tahu Tek
16. Lontong Mie
17. Sego Sambel
18. Lontong Kikil
19. Soto Ambengan
20. Bakso Kikil
21. Nasi Kebuli
22. Penyetan Pe
23. Lontong Lodeh
24. Nasi Campur
25. Gule Maryam
26. Sego Welut
27. Pecel
28. Nasi Wader
29. Kare Kambing
30. Nasi Babat

Untuk Program Fat- Burning nya bisa jalan santai mengunjungi beberapa Mall di Surabaya.
Selamat menikmati. & Have Fun !


Sunday, November 1, 2009

Gerak Jalan Mojokerto – Surabaya

Pernah dulu semasa SMA aku mengikuti Gerak Jalan Mojokerto – Surabaya, bersama dengan teman-temanku. 2 minggu lagi kegiatan ini akan berlangsung lagi, memeriahkan dan juga menambah income bagi para pedagang kaki lima sepanjang jalur jalan dari start di Alun-alun Mojokerto sampai ke finish di depan Kantor Gubernur Jawa Timur yang berada tepat di depan Tugu Pahlawan.

Gerak jalan ini biasa diadakan setahun sekali, dalam rangka merayakan Hari Pahlawan 10 November.
Berikut sekilas informasinya:


Peserta terbuka bagi semua lapisan masyarakat seluruh Indonesia, bisa dari kalangan manapun seperti : TNI, POLRI, Pegawai, Pelajar dan Mahasiswa dan Masyarakat Umum.
Untuk seragam peserta, diharuskan menganakan pakaian olah raga atau juga di perbolehkan menggunakan seragam dengan nuansa hari Pahlawan. Namun tidak di perkenankan menggunakan atribut dan seragam Partai Politik.

Peserta untuk Tim Beregu di perkenankan membawa pengantar / pengawal namun dengan menggunakan sepeda kayuh dan di haruskan memiliki tanda pengenal dari Panitia
Bila peserta membawa konsumsi, hanya di perkenankan di berikan di Pos I dan Pos II saja, dan pembawa tidak di perkenankan menggunakan kendaraan roda empat.

Total Jarak Tempuh perjalanan sekitar 55km.
POS I berada di Daerah Krian dengan jarak dari start sekitar 23km. POS II di daerah Sepanjang dengan jarak 17km dari Pos I.
Di setiap POS peserta boleh beristirahat selama max 20 menit.

Rute Perjalanan dimulai dari Alun-alun Mojokerto melalui Jl.Mojopahit, Jl.Bhayangkara, Jl.Gajah Mada, Jl.Raya Ajinomoto, Pabrik Ciwi Kimia, Krian, Sepanjang, Karang Pilang, Jl.Gunung Sari (Yani Golf), Terminal Joyoboyo, Kebun Binatang Wonokromo, Jl.Diponegoro, Jl. Pasar Kembang, Jl.Kedung Doro, Jl.Blauran, Jl.Bubutan, Jl.Palawan, dan memutar ke Jl.Kebun Rojo untuk mencapai finish di depan Kantor Gubernuran.

Kegiatan ini akan di laksanakan pada :
  • Hari : Sabtu
  • Tanggal: 14 November 2009
  • Start : Pukul 15:00WIB di Alun-alun Kota Mojokerto
  • Finish : Tugu Pahlawan Surabaya

Jenis Lomba :
• Beregu Putra atau Campuran
Terdiri dari 11 orang peserta inti dan 3 orang cadangan, dengan usia minimal 17 tahun. Pergantian cadangan hanya boleh di Pos I dan Pos II dengan sepengetahuan Panitia.
Biaya pendaftaran : Rp. 25.000,-
• Perorangan
Untuk Putra, usia harus di atas 30 tahun.
Untuk Putri, usia harus di atas 25 tahun.
Biaya pendaftaran : Rp. 10.000,-

Tempat Pendaftaran :
Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Propinsi Jawa Timur
Jl. Kayon No. 56,
Surabaya
Telp: 031-534 5507
Fax: 031-534 5508

Maju Terus Surabaya ku, Pantang Mundur !

Friday, October 2, 2009

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)




Selain monument perjuangan Tugu Pahlawan, Surabaya masih memiliki banyak Landmark lain dan satu di antaranya adalah Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) atau biasa disebut sebagai Masjid Agung Surabaya.

Memasuki kawasan Gayungan dari Jalan Raya A Yani, dari jauh kemegahan dan kebesaran Masjid sudah terlihat. Dengan kubah utama dan ujung menara berwarna biru kehijauan yang berdiri dengan kokohnya benar-benar membuat kita merasa kecil.
Begitu sampai di pintu gerbang paling depan Masjid, tampak di sebelah kanan ada pos Polisi dengan jajaran sepeda di depan-nya yang selalu siap berkeliling area Masjid untuk menjaga keamanan hampir setiap jamnya. Mio-ku di parkir tepat di samping Pos Polisi. Safety first, karena tidak tampak ada seorangpun tukang parkir di sana. Jadi paling tidak Mio-ku akan aman beristirahat sejenak di sana.

Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, digagas oleh H Soenarto Soemoprawiro yang merupakan walikota Surabaya pada saat itu.
Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Wakil Presiden Tri Sutrisno pada 4 Agustus 1995, kemudian di resmikan pada 10 November 2000 oleh presiden ke 4 RI, KH Abdurrahman Wahid.

Luas Total wilayah masjid ini adalah 22.300M2, dengan panjang 147x128 M. Arsitekturnya terdiri dari 1 kubah besar, 4 kubah kecil berpentuk limas di 4 penjuru dan 1 Menara di salah satu sudutnya yang menjulang tinggi di angkasa. Keseluruhan ada 45 pintu masuk Masjid yang terbuat dari kayu jati pilihan, dan sebagian besar dihiasi dengan ukiran kaligrafi. Lantainya dari Marmer dan didatangkan khusus dari Lampung, Total listrik yang di perlukan mencapai 1Megawatt untuk seluruh fasilitas penerangan dan fasilitas pendukung lainnya.

Kubah besar di tengah masjid berbentuk setengah telur tersebut memiliki ketinggian 27M dan diameter 54M. Dengan warna hijau kebiruan yang akan tampak menonjol diantara bangunan-bangunan di sekitarnya.
Nuansa warna baik di dalam maupun di luar masjid menggunakan campuran warna, merah mahogany, biru, hijau, coklat dan coklat muda, serta kuning keemasan.

Begitu kita memasuki pintu gerbang depan, pada pelataran halaman depan Masjid terdapat 2 pos penjagaan pada sisi kiri dan kanan. Mungkin karena sedang tidak ada kegiatan di lokasi, pada saat itu 2 pos tersebut kosong.
Lampu penerangan berkekuatan tinggi tersebar di sekitar pelataran dengan luas 72x30M ini. Dan tidak kalah dengan tiang lampu, pohon-pohon hijau tinggi segar dengan pembatas melingkar setinggi kira-kira 30cm di sekeliling tiap pohon yang bisa kita pergunakan untuk tempat duduk juga menyemarakkan halaman masjid. Aku dan Zoe sempat beristirahat sejenak di sana, menikmati semilirnya angin menjelang senja.

Memasuki kawasan masjid kita akan menemui pilar-pilar besar dengan air mancur bersegi bintang. Kawasan ini disebut Area Zam-Zam, dengan luas 54x54M dan dapat menampung kira-kira 2000 pengunjung.
Tepat di sisi depan air mancur sudah memasuki kawasan “Batas Suci” dimana kita tidak di perkenankan menggunakan alas kaki dan masih banyak lagi aturan-aturan yang tertulis di area Batas Suci tersebut, yang pastinya harus di taati pengunjung. Pintu Utama Masjid ada 3 pintu besar, namun biasanya yang terbuka hanya 2 pintu saja, dan pintu tengah dibiarkan tertutup. Di antara pintu utama masuk masjid, ada kotak infaq. Kemudian di samping kiri ada Bedug besar dengan ornament ukir. Disebelah kanan ada kota kaca tempat disimpan-nya miniatur masjid, dan di sisi paling kanan terdapat kentongan dengan ornament ukiran juga.

Beberapa saat setelah kami menikmati keindahan ornament Pintu Utama masjid, terdengar adzan Magrib berkumandang. Segera kami mencari tempa berwudlu.
Ada 4 lokasi tempat berwudlu, pada beberapa pintu masuk masjid, 2 di sisi bagian kanan dan juga 2 pada samping kiri. Bila kita dari arah Pintu Utama, masuk melalui pintu samping kanan, kemudian ada tangga ke bawah dan tempat di ujung tangga ada tempat untuk berwudlu. Di sana disediakan juga “klompen atau bakiak (sandal tradisional jawa yang terbuat dari kayu)”. Setelah berwudlu, Kemudian kita naik tangga lagi memasuki pintu Masjid dari arah samping. Tepat di depan Pintu masuk samping masjid juga bisa kita temui satu tempat wudlu lagi. Bagi pengunjung wanita yang tidak membawa Mukenah, di sana juga di sediakan. Mukenah tersebut di tempatkan pada lemari kaca tepat di “soft wanita” bagian belakang.

Di ruang utama masjid, atau di sebut juga Ruang Al-Akbar, selain sebagai Ruang Ibadah, juga bisa di manfaatkan untuk melangsungkan Akad Nikah, pengajian dll
Luas Ruang Al Akbar 54x54M, dengan kapasitas 5000 jama’ah, ada juga panggung Qori 1,5x1,5M. Dibagian atas ruang Al Akbar, terdapat ornamen kaligrafi Al Qur’an sepanjang 180M lebar 1M. . Di sana ada banyak rak yang penuh dengan Al Qur’an dan bisa di pinjam. Tampak di ada beberapa keluarga dan sekelompok remaja membaca Al Qur’an setelah melaksanakan ibadah Sholat Magrib.

Fasilitas lain dari Masjid ini adalah Ruang As-Shofa dan Al-Marwah, yang bisa di pergunakan untuk mengadakan Resepsi pernikahan, Seminar, pengajian, rapat umum, pameran, pagelaran musik dll.
Cukup “compact” dengan luas ruangan 36x42 M, di lengkapi panggung permanent 15x4 M, 1 ruang ganti dan 3 ruang rias, pantry, AC 120 PK, sound system, listrik 250.000W, kursi 100pcs, serta dapat menampung 2000 undangan.

Hm… sudah cukup gelap di luar sana, saat kami memutuskan akan pulang.
Pada waktu memasuki masjid, sepatu kami tinggal di depan “Batas Suci” Pintu Utama. Dan ternyata sepatu kami masih tetap ada pada tempatnya saat kami pulang.

Monday, September 28, 2009

Taman Pelangi



Merupakan salah satu dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah Selatan Surabaya. Letaknya persis di tengah Jl. A Yani lingkaran yang menuju ke arah kawasan Rungkut Industri. Taman ini benar-benar bermanfaat di sela kepadatan lalu-lintas yang selalu terjadi di sekitar area ini. Taman Pelangi tidak begitu luas, mungkin hanya sekitar 50 meteran panjang ujung luar sisi depan dengan bentuk trapezium. Di tengahnya ada pelataran dengan lantai batu warna-warni yang seharusnya bisa di manfaatkan untuk kegiatan. Selain itu terdapat banyak tempat sampah (kering dan basah) di hampir setiap 10M-nya. Ada juga satu kantor kecil yang bisa juga di manfaatkan untuk tempat sholat dan toilet yang cukup bersih tentu saja. Sangat di sayangkan tidak ada informasi apapun tentang taman ini di lokasi. Mungkin bisa menjadi tambahkan usulan bagi Pemda Surabaya, setiap kali membuat taman, ada satu sudut yang menginformasikan tentang sejarah, fungsi dan makna dari taman tersebut.

Thursday, September 24, 2009

Taman Bungkul






Sebagai salah satu penunjang sarana Taman Kota atau yang lebih dikenal dengan kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau), Taman bungkul yang terletak di Jl. Raya Darmo memiliki fasilitas yang baik, dilengkapi dengan kawasan pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam makanan tradisional terutama makanan khas Surabaya, seperti Semanggi, Pecel, Soto Madura, dan Sate Ayam Madura. Bahkan ada satu warung rawon yang terkenal dengan sebutan “Rawon Kalkulator” karena si penjual dapat menghitung jumlah trasaksi dengan cepat dan tepat layaknya kalkulator.

Namun makanan ada juga, Bakso, Batagor, Martabak dan lain-lain.

Taman Bungkul memiliki tempat unik yang mirip Colloseum jaman Romawi, sehingga sangat menunjang sebagai tempat “Cangkruk” (Nongkrong) arek-arek Suroboyo, taman ini juga di lengkapi dengan fasilitas free WiFi, lapangan Skate Board, dan Air Minum Bersih.

Pada hari minggu pagi digunakan sebagai tempat olah raga senam Aerobic.

Di samping meeting point grup Motor Gede (Moge), juga meeting point club rally sepeda.Kadang-kadang juga di gunakan sebagai tempat untuk acara tertentu, terutama yang menyangkut kota Surabaya.

Selain Taman yang segar, ada juga pancuran kecil yang cukup menarik perhatian, Taman bermain anak-anak dan tak ketinggalan Fasilitas kamar kecil yang cukup bersih.

Sejarah Taman Bungkul tidak jauh dari berdirinya Surabaya.

Berdasarkan dari Prasasti yang tertinggal di kawasan makam Mbah Bungkul atau Sunan Bungkul, yang merupakan peninggalan dari era jaman Majapahit, terdapat prasasti yang menceritakan tentang Prajurit Kartanegara pada 1270-an.

Kelestarian Taman Bungkul terjaga baik hingga sekarang. Sejak sejarah perang pertama Surabaya pada masa R Wijaya dengan Pasukan Tar Tar, kemudian masa Kolonial Hindia Belanda, sampai jaman perang dengan Jepang.

Seolah-olah ada kubah tak terlihat yang melindungi kawasan ini.

Sampai sekarang kawasan perkampungan penduduk Asli Taman Bungkul masih terjaga dan keluarga mereka masih ada yang tinggal di sana sampai sekarang.

Apakah ini juga sebagai bukti bahwa spirit Sunan Bungkul masih tetap menjaga kedamaian dan keaslian Wilayah ini?

Wednesday, September 23, 2009

Jalan2 Malam Takbiran

Selepas Isa, Aku bersama Zoe “Nglencer” mencoba menikmati malam takbiran di beberapa tempat di Surabaya.

Tujuan pertama kita yaitu Taman Bungkul yang sering kira datangi untuk olah raga minggu pagi (Ah.. gak terlalu sering juga, klo lagi gak males tepatnya).

Entah karena malam minggu atau karena malam takbiran, pengunjung berjubel, dari segala usia. Hampir semuanya menggunakan sepeda motor, walau ada juga yang bermobil.

Anak-anak kebanyakan bermain di tengah Arena dengan (hampir semuanya) main kitiran yang berlampu dan bisa di lempar ke udara.

Zoe juga beli satu dengan lampu warna merah. Harganya 4 ribu, waktu Aku Tanya kok gak di tawar, dengan enteng dia menjawab “Kasihan Ma, susah bikinnya!” (Dalam hati aku menjawab, Mama juga susah nyari duitnya… J)

Parkir sepeda motor berjejer rapi memenuhi sekeliling Taman Bungkul. Hari “Panen” bagi para petugas parker. Bayangkan, 1 motor harus bayar 2 ribu rupiah. Berapa ratus motor yang terparkir disitu dan bergantian sepanjang hari ini. Satu lagi nikmat Allah bagi hambanya di Ramadhan ini, Rejeki buat Tukang Parkir.

Dari Taman Bungkul kita berlanjut ke Taman Pelangi. Taman yang selama ini hanya kita nikmati dari jauh keindahan pancuran miring dengan pantulan sinar warna-warninya.

Entah mungkin kita kurang beruntung saat itu, baik Aku dan Zoe tidak merasakan kenyamanan di sana. Kalau dilihat pancurannya cantik, tamannya juga cantik, tapi kok terasa kurang menarik. Apakah karena pengunjung yang ada hampir semuanya pasangan yang memang sengaja ke sana buat pacaran.

Pengunjung yang dengan keluarga, mungkin hanya kita, Aku dan Zoe, bersama dengan 1 keluarga lagi dengan 4 anaknya dan 2 ponakan.

Karena situasi yang tidak terlalu menyenangkan di sana, setelah berkeliling dan Zoe sempat ke Toilet juga, kira-kira 15 menitlah kita sudah menuju ke tempat parker untuk meneruskan jalan-jalan takbiran kita.

Malah tukang parkirnya sempat menegur “Kok cuma sebentar Bu?”

Keluar Taman Pelangi, kita meluncur dengan Mio-ku menyusuri jalan A Yani, sampai akhirnya memutar di U-Turn depan CiTo (City of Tomorrow) untuk menuju ke Masjid Agung.

Dari A Yani, akan ada penunjuk jalan pertama belok kiri ke Masjid Agung. Tidak sulit menemukannya, tinggal lurus saja mengikuti jalan tersebut, sampai mentok.

Ketika mulai masuk kawasan Gayungan, di kanan dan kiri jalan mulai ramai dengan pedagang kaki lima dan juga bikers yang memarkir di dekat pedangan tadi.

Begitu sampai di Masjid Agung, kerumunan terlihat semakin banyak pengunjung dan juga ada barikade kawat berduri di beberapa tempat lengkap dengan Polisinya. Gema Takbir terasa sekali, karena suaranya yang jernih mendominasi diantara raungan sepeda motor para bikers.

Kita berputar mengelilingi Masjid Agung menggunakan sepeda motor. Ternyata di bagian jalan di belakan masjid, tepat di samping jalan toll, lebih banyak bikers yang “Cangkruk” di sana. Satu putaran sudah, kita kembali ke jalan raya A Yani lagi.

Ketika mendekati KFC A.Yani, tiba-tiba Zoe berkomentar “Wah KFC-nya gede banget ya Ma?”. Wah… anak-ku minta mampir, walaupun gak ngomong langsung. Lalu aku masuk ke kawasan parkirnya, di sana masuk parker sepeda motor di kenakan Rp. 1.000 dan mendapat karcis electronic.

Sampai di counter, ya ampun ngantri panjang. Zoe ngantri di barisan sebelahku. Jadi mana yang duluan dapet itu yang kita ambil. He.. he.. he.. pinter ya anak-ku. Lalu kita pesan Chicken fillet, Sup, dan Spaghetti Supreme. Untuk minumnya kita akan mencoba KFC Coffee (Aku rasa satu-satunya yang ada di Surabaya untuk saat ini). Minumnya aku pesan Ice Capuccino dan ntuk Ku sendiri Hot Capuccino Singgle (Hm… rasanya tidak terlalu heboh).

Zoe sempet mainan di sana sebentar sebelum melanjutkan lagi jalan-jalan kita.

Dari A Yani, melewati Royal Plaza, lewat lagi Kebun binatang Wonokromo, kemudian ambil jalur kanan menuju Jl. Raya Darmo.

Di ujung Raya Darmo, dulunya Musium Mpu Tantular, ada sederet Vespa Fans yang berbaris rapi unjuk gigi, dan dibelakangnya si empunya Vespa tersebut “ndlosor” ngobrol dengan sesama owners Vespa.

Melewati Taman Bungkul kembali, terlihat barisan bikers malah semakin memadat. Menyusuri Raya Darmo, kemudian masuk ke Urip Sumoharjo, dan sampailah ke patung Karapan Sapi di pertigaan jalan, merupakan batas Urip Sumoharjo, Basuki Rachmat dan Panglima Sudirman.

Dulu waktu awal masuk Surabaya, kalau teman-teman kantor ngomong tentang Basrah aku gak ngeh. Ternyata itu adalah singakatan dari nama jalan Basuki Rachmat. Pada saat melintas Basrah, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam lebih. Sudah mulai terlihat pemandangan yang menarik di sepanjang Basrah, yaitu Club Bikers yang berkelompok sesuai dengan jenis kendaraan mereka. Bahkan ada yang mengibarkan spanduk nama Club mereka. Hebat juga Surabaya Bikers.

Memasuki jalan …. Tepat di depan Taman Surya banyak juga arek-arek Surabaya yang “Cangkruk” disana, tapi mereka bukan dari para Bikers Club.

Melewati Gedung Pemuda dan berbelok kiri, sudah terlihat gedung Pemerintahan Kota Surabaya, di mana Bapak Walikota Surabaya ngantor.

Ada aktivitas Takbiran di sana, dan juga persiapan untuk solat Ied ke-esokan harinya.

Aku mengambil jalur kanan memutar menyusur Kalimas di samping Delta Plaza. Sepanjang Jl. Pemuda, kita ketemu dengan beberapa rombongan pemusik yang nangkring di atas mobil terbuka sambil menyuarakan Takbir.

Berbelok ke kiri, sepanjang PANGSUD – Jl. Panglima Sudirman, kembali kita terpukau dengan club bikers yang berjajar rapi sepanjang jalan itu sampai ke Tugu Bambu Runcing. Uniknya, sepeda motor yang ada di sini kebanyakan merk Honda type lama. Mungkin sekitar tahun 70-an lah.

Berlanjut kita menyusuri jalan Urip Sumoharjo kembali, kemudian Raya Darmo sampai akhir nya di perempatan jalan berbelok ke Dr. Sutomo. Dari sana mesuk kearah Supermarket Sinar – Bintoro, yang open untuk 24 hrs.

Sesampainya di depan Jl. Bintoro, ya ampun, padahal sudah mendekati midnite, tapi pengunjung ramai sekali mengalahkan Paris (Pasar Pakis). Zoe dengan lincahnya mengambil kereta belanja dan mencari barang-barang titipan Aunty Pritha dan Yang Ti. Wah kalau masalah belanja, memang hebat anak-ku.

Sampai di rumah, tak terasa sudah hamper jam 01:00 AM, dan mata kita berdua tidak bisa terpejam. Ini pasti gara-gara Capuchino-nya KFC tadi. Weks…. Kita berdua melek sampai subuh dan sampai Sholat Ied di Jalan Musi bersama seluruh keluarga. Ah… damainya… Terima kasih ya Allah atas segala rachmat yang telah Kau limpahkan. Amien …

Minal Aidzin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin 1 Syawal 1430 H

Thursday, April 30, 2009

Sejarah - Ujung Galuh

Pada jaman dahulu kala, Surabaya dikenal dengan nama “Ujung Galuh”. Sejarah tentang nama Surabaya berawal di tahun 1293, saat Raja Pertama Majapahit “Raden Wijaya” berhasil memenangkan pertempuran melawan pasukan dari Kerajaan Mongolia.
Dengan adanya sungai Kalimas yang mengalir membelah kota dari Pelabuhan ke tengah jantung kota Ujung Galuh, menjadikan kota ini Pelabuhan Pantai Timur Pulau Jawa yang sangat penting.
Namun disamping letaknya yang sangat strategis dan menguntungkan, malah membuat Negara lain ingin menguasai kota ini.

Setelah berhasil mengalahkan pasukan Tar Tar dari Mongolia, Raden Wijaya membangun sebuah istana di Ujung Galuh. Beliau menunjuk Adipati Jayengrono untuk menjaga wilayah tersebut.
Namun kemudian, Adipati Jayengrono dengan kekuatan ilmu kanuragan “Baya” (Ilmu Buaya) menjadi sosok yang sangat perkasa dan ditakuti.
Hal ini membuat Raden Wijaya merasa kawatir akan kedudukan Majapahit. Kemudian beliau mengutus Sawunggaling salah seorang anggota pasukan kepercayaanya untuk belajar ilmu kanuragan guna menandingi kesaktian Adipati Jayengrono.
Setelah berhasil menambah kesaktiannya dengan mempelajari ilmu “Sura” (Ilmu Hiu). Kemudian, Sawunggaling mengajak Adipati Jayengrono untuk beradu kesaktian. Mereka berdua bertanding selama tujuh hari dan tujuh malam, namun tidak ada seorangpun yang berhasil memenangkan duel tersebut. Malah keduanya kehilangan tenaga sakti mereka.
Karena pertempuran antara dua ilmu kanuragan “Sura dan Baya” itulah, maka daerah tersebut kemudian dikenal dengan sebutan “Surabaya”. Dan sejak saat itu selain Ujung Galuh, masyarakat juga menyebutnya sebagai Surabaya.

Pada catatan prasasti kuno yang terdapat pada Candi Trowulan (1358) kita juga bisa menemukan nama Surabaya atau “Churabhaya”. Kemudian pada Kitab Negara Kertagama Pujasastra yang dikarang oleh Mpu Prapanca (1365) juga terdapat nama tersebut.
Trowulan adalah Ibu kota kerajaan Majapahit, dan situs Candi tersebut masih bisa kita temui di sekitar Mojokerto.
Sedangkan Kitab Negara Kertagama Pujasastra adalah kisah perjalanan Raja Hayam Wuruk yang ditulis oleh Mpu Prapanca, seorang sastrawan kerajaan pada masa itu.

Pada catatan modern, Hipotesa Von Faber menyebutkan bahwa Surabaya didirikan pada tahun 1275 oleh Raja dari Kartanagara.

Bapak Soeparno, yang pada tahun 1975 menjabat sebagai Walikota Surabaya mengeluarkan Keputusan Walikota No. 64/WK/75 yang menyatakan bahwa “Hari Jadi” Surabaya adalah tanggal 31 Mei 1293.Dan kata Surabaya diambil dari “Sura ing Baya” yang artinya adalah “Keberanian menghadapi bahaya”.

Tuesday, March 24, 2009

About Me :


About Me :

My beloved grand father said, that I born under the influence of “Prabu Jayabaya” mystical mystery. In Dhaha, the ancient great land capital city of Kahuripan Emperor. Now a day called Kediri.
My father was in the line of duty to fulfill freedom for West Irian people, when I enter my very first journey to this wonderful world. I was named after the only brave lady in the vessel “Lina”, journalist whom wrote the whole report of all Indonesia East Armada Navy member activity that time.
Wow …. It seems that starting from the very beginning of my life, I am surrounded by great peoples.

I guess, my father wish is come true. I grow up become a strong woman because of all great peoples around me.
I wish my little lovely angel “ZoĆ«” could be as brave as her Mom too, even better. That’s always a prayer from a Mom.

It’s been so long I dream of having my own blog.
The strong courage to have more friends, gain more knowledge and improving my understanding of life, triggering this hand to try to dance on my keyboard.
My English and by blog knowledge is far from good. It is part of my journey in learning and improving. Your advise would be very much appreciated.

Through this, I will explore the world and share to others what is inside my head and my heart.

I would really grateful if all visitor in my page could share her/his point of view, idea, thought and hopefully this could become inspiration to others.
Enjoy !