Monday, September 28, 2009

Taman Pelangi



Merupakan salah satu dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah Selatan Surabaya. Letaknya persis di tengah Jl. A Yani lingkaran yang menuju ke arah kawasan Rungkut Industri. Taman ini benar-benar bermanfaat di sela kepadatan lalu-lintas yang selalu terjadi di sekitar area ini. Taman Pelangi tidak begitu luas, mungkin hanya sekitar 50 meteran panjang ujung luar sisi depan dengan bentuk trapezium. Di tengahnya ada pelataran dengan lantai batu warna-warni yang seharusnya bisa di manfaatkan untuk kegiatan. Selain itu terdapat banyak tempat sampah (kering dan basah) di hampir setiap 10M-nya. Ada juga satu kantor kecil yang bisa juga di manfaatkan untuk tempat sholat dan toilet yang cukup bersih tentu saja. Sangat di sayangkan tidak ada informasi apapun tentang taman ini di lokasi. Mungkin bisa menjadi tambahkan usulan bagi Pemda Surabaya, setiap kali membuat taman, ada satu sudut yang menginformasikan tentang sejarah, fungsi dan makna dari taman tersebut.

Thursday, September 24, 2009

Taman Bungkul






Sebagai salah satu penunjang sarana Taman Kota atau yang lebih dikenal dengan kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau), Taman bungkul yang terletak di Jl. Raya Darmo memiliki fasilitas yang baik, dilengkapi dengan kawasan pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam makanan tradisional terutama makanan khas Surabaya, seperti Semanggi, Pecel, Soto Madura, dan Sate Ayam Madura. Bahkan ada satu warung rawon yang terkenal dengan sebutan “Rawon Kalkulator” karena si penjual dapat menghitung jumlah trasaksi dengan cepat dan tepat layaknya kalkulator.

Namun makanan ada juga, Bakso, Batagor, Martabak dan lain-lain.

Taman Bungkul memiliki tempat unik yang mirip Colloseum jaman Romawi, sehingga sangat menunjang sebagai tempat “Cangkruk” (Nongkrong) arek-arek Suroboyo, taman ini juga di lengkapi dengan fasilitas free WiFi, lapangan Skate Board, dan Air Minum Bersih.

Pada hari minggu pagi digunakan sebagai tempat olah raga senam Aerobic.

Di samping meeting point grup Motor Gede (Moge), juga meeting point club rally sepeda.Kadang-kadang juga di gunakan sebagai tempat untuk acara tertentu, terutama yang menyangkut kota Surabaya.

Selain Taman yang segar, ada juga pancuran kecil yang cukup menarik perhatian, Taman bermain anak-anak dan tak ketinggalan Fasilitas kamar kecil yang cukup bersih.

Sejarah Taman Bungkul tidak jauh dari berdirinya Surabaya.

Berdasarkan dari Prasasti yang tertinggal di kawasan makam Mbah Bungkul atau Sunan Bungkul, yang merupakan peninggalan dari era jaman Majapahit, terdapat prasasti yang menceritakan tentang Prajurit Kartanegara pada 1270-an.

Kelestarian Taman Bungkul terjaga baik hingga sekarang. Sejak sejarah perang pertama Surabaya pada masa R Wijaya dengan Pasukan Tar Tar, kemudian masa Kolonial Hindia Belanda, sampai jaman perang dengan Jepang.

Seolah-olah ada kubah tak terlihat yang melindungi kawasan ini.

Sampai sekarang kawasan perkampungan penduduk Asli Taman Bungkul masih terjaga dan keluarga mereka masih ada yang tinggal di sana sampai sekarang.

Apakah ini juga sebagai bukti bahwa spirit Sunan Bungkul masih tetap menjaga kedamaian dan keaslian Wilayah ini?

Wednesday, September 23, 2009

Jalan2 Malam Takbiran

Selepas Isa, Aku bersama Zoe “Nglencer” mencoba menikmati malam takbiran di beberapa tempat di Surabaya.

Tujuan pertama kita yaitu Taman Bungkul yang sering kira datangi untuk olah raga minggu pagi (Ah.. gak terlalu sering juga, klo lagi gak males tepatnya).

Entah karena malam minggu atau karena malam takbiran, pengunjung berjubel, dari segala usia. Hampir semuanya menggunakan sepeda motor, walau ada juga yang bermobil.

Anak-anak kebanyakan bermain di tengah Arena dengan (hampir semuanya) main kitiran yang berlampu dan bisa di lempar ke udara.

Zoe juga beli satu dengan lampu warna merah. Harganya 4 ribu, waktu Aku Tanya kok gak di tawar, dengan enteng dia menjawab “Kasihan Ma, susah bikinnya!” (Dalam hati aku menjawab, Mama juga susah nyari duitnya… J)

Parkir sepeda motor berjejer rapi memenuhi sekeliling Taman Bungkul. Hari “Panen” bagi para petugas parker. Bayangkan, 1 motor harus bayar 2 ribu rupiah. Berapa ratus motor yang terparkir disitu dan bergantian sepanjang hari ini. Satu lagi nikmat Allah bagi hambanya di Ramadhan ini, Rejeki buat Tukang Parkir.

Dari Taman Bungkul kita berlanjut ke Taman Pelangi. Taman yang selama ini hanya kita nikmati dari jauh keindahan pancuran miring dengan pantulan sinar warna-warninya.

Entah mungkin kita kurang beruntung saat itu, baik Aku dan Zoe tidak merasakan kenyamanan di sana. Kalau dilihat pancurannya cantik, tamannya juga cantik, tapi kok terasa kurang menarik. Apakah karena pengunjung yang ada hampir semuanya pasangan yang memang sengaja ke sana buat pacaran.

Pengunjung yang dengan keluarga, mungkin hanya kita, Aku dan Zoe, bersama dengan 1 keluarga lagi dengan 4 anaknya dan 2 ponakan.

Karena situasi yang tidak terlalu menyenangkan di sana, setelah berkeliling dan Zoe sempat ke Toilet juga, kira-kira 15 menitlah kita sudah menuju ke tempat parker untuk meneruskan jalan-jalan takbiran kita.

Malah tukang parkirnya sempat menegur “Kok cuma sebentar Bu?”

Keluar Taman Pelangi, kita meluncur dengan Mio-ku menyusuri jalan A Yani, sampai akhirnya memutar di U-Turn depan CiTo (City of Tomorrow) untuk menuju ke Masjid Agung.

Dari A Yani, akan ada penunjuk jalan pertama belok kiri ke Masjid Agung. Tidak sulit menemukannya, tinggal lurus saja mengikuti jalan tersebut, sampai mentok.

Ketika mulai masuk kawasan Gayungan, di kanan dan kiri jalan mulai ramai dengan pedagang kaki lima dan juga bikers yang memarkir di dekat pedangan tadi.

Begitu sampai di Masjid Agung, kerumunan terlihat semakin banyak pengunjung dan juga ada barikade kawat berduri di beberapa tempat lengkap dengan Polisinya. Gema Takbir terasa sekali, karena suaranya yang jernih mendominasi diantara raungan sepeda motor para bikers.

Kita berputar mengelilingi Masjid Agung menggunakan sepeda motor. Ternyata di bagian jalan di belakan masjid, tepat di samping jalan toll, lebih banyak bikers yang “Cangkruk” di sana. Satu putaran sudah, kita kembali ke jalan raya A Yani lagi.

Ketika mendekati KFC A.Yani, tiba-tiba Zoe berkomentar “Wah KFC-nya gede banget ya Ma?”. Wah… anak-ku minta mampir, walaupun gak ngomong langsung. Lalu aku masuk ke kawasan parkirnya, di sana masuk parker sepeda motor di kenakan Rp. 1.000 dan mendapat karcis electronic.

Sampai di counter, ya ampun ngantri panjang. Zoe ngantri di barisan sebelahku. Jadi mana yang duluan dapet itu yang kita ambil. He.. he.. he.. pinter ya anak-ku. Lalu kita pesan Chicken fillet, Sup, dan Spaghetti Supreme. Untuk minumnya kita akan mencoba KFC Coffee (Aku rasa satu-satunya yang ada di Surabaya untuk saat ini). Minumnya aku pesan Ice Capuccino dan ntuk Ku sendiri Hot Capuccino Singgle (Hm… rasanya tidak terlalu heboh).

Zoe sempet mainan di sana sebentar sebelum melanjutkan lagi jalan-jalan kita.

Dari A Yani, melewati Royal Plaza, lewat lagi Kebun binatang Wonokromo, kemudian ambil jalur kanan menuju Jl. Raya Darmo.

Di ujung Raya Darmo, dulunya Musium Mpu Tantular, ada sederet Vespa Fans yang berbaris rapi unjuk gigi, dan dibelakangnya si empunya Vespa tersebut “ndlosor” ngobrol dengan sesama owners Vespa.

Melewati Taman Bungkul kembali, terlihat barisan bikers malah semakin memadat. Menyusuri Raya Darmo, kemudian masuk ke Urip Sumoharjo, dan sampailah ke patung Karapan Sapi di pertigaan jalan, merupakan batas Urip Sumoharjo, Basuki Rachmat dan Panglima Sudirman.

Dulu waktu awal masuk Surabaya, kalau teman-teman kantor ngomong tentang Basrah aku gak ngeh. Ternyata itu adalah singakatan dari nama jalan Basuki Rachmat. Pada saat melintas Basrah, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam lebih. Sudah mulai terlihat pemandangan yang menarik di sepanjang Basrah, yaitu Club Bikers yang berkelompok sesuai dengan jenis kendaraan mereka. Bahkan ada yang mengibarkan spanduk nama Club mereka. Hebat juga Surabaya Bikers.

Memasuki jalan …. Tepat di depan Taman Surya banyak juga arek-arek Surabaya yang “Cangkruk” disana, tapi mereka bukan dari para Bikers Club.

Melewati Gedung Pemuda dan berbelok kiri, sudah terlihat gedung Pemerintahan Kota Surabaya, di mana Bapak Walikota Surabaya ngantor.

Ada aktivitas Takbiran di sana, dan juga persiapan untuk solat Ied ke-esokan harinya.

Aku mengambil jalur kanan memutar menyusur Kalimas di samping Delta Plaza. Sepanjang Jl. Pemuda, kita ketemu dengan beberapa rombongan pemusik yang nangkring di atas mobil terbuka sambil menyuarakan Takbir.

Berbelok ke kiri, sepanjang PANGSUD – Jl. Panglima Sudirman, kembali kita terpukau dengan club bikers yang berjajar rapi sepanjang jalan itu sampai ke Tugu Bambu Runcing. Uniknya, sepeda motor yang ada di sini kebanyakan merk Honda type lama. Mungkin sekitar tahun 70-an lah.

Berlanjut kita menyusuri jalan Urip Sumoharjo kembali, kemudian Raya Darmo sampai akhir nya di perempatan jalan berbelok ke Dr. Sutomo. Dari sana mesuk kearah Supermarket Sinar – Bintoro, yang open untuk 24 hrs.

Sesampainya di depan Jl. Bintoro, ya ampun, padahal sudah mendekati midnite, tapi pengunjung ramai sekali mengalahkan Paris (Pasar Pakis). Zoe dengan lincahnya mengambil kereta belanja dan mencari barang-barang titipan Aunty Pritha dan Yang Ti. Wah kalau masalah belanja, memang hebat anak-ku.

Sampai di rumah, tak terasa sudah hamper jam 01:00 AM, dan mata kita berdua tidak bisa terpejam. Ini pasti gara-gara Capuchino-nya KFC tadi. Weks…. Kita berdua melek sampai subuh dan sampai Sholat Ied di Jalan Musi bersama seluruh keluarga. Ah… damainya… Terima kasih ya Allah atas segala rachmat yang telah Kau limpahkan. Amien …

Minal Aidzin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin 1 Syawal 1430 H